Boh
gaca atau pemakaian inai (henna) adalah
salah satu adat istiadat Aceh yang jika di telusuri asal mulanya, terkait dengan tradisi
masyarakat Arab Timur Tengah dan India. Tradisi ini juga dikenal di kebudayaan
daerah lain di Nusantara. Seni mewarnai bagian tubuh ini menggunakan daun
pacar/inai atau lawsonia inermis yang
banyak tumbuh di Asia, Afrika, Timut Tengah, dan Australia.
Boh
gaca atau berinai adalah salah satu tradisi yang tidak bisa di lewatkan dalam
acara prosesi adat pernikahan. Boh gaca adalah pemakaian inai dari daun pacar untuk menghiasi
tangan calon dara baro atau mempelai wanita. Bahkan bagi masyarakat Aceh khsusunya
wilayah pesisir Barat-Selatan, linto baro atau mempelai pria juga turut
mengikuti proses ini. Gaca dalam bahasa Indonesia berarti inai. Gaca berasal
dari daun pacar yang digiling halus dengan menggunakan batu giling. Tradisi boh
gaca di tengah masyarakat Aceh biasanya di jumpai saat acara perkawinan dan
sunat Rasul atau khitan. Namun seiring perkembangan zaman tradisi boh gaca di
Aceh mulai terpengaruh budaya luar dan masuknya budaya asing. Kini, banyak
masyarakat yang menggunakan henna instan seperti henna India dan henna warna
putih. Tidak lagi menggunakan bahan alami yaitu daun pacar asli dari pohon yang
ditanam di Aceh.
(Daun Pacar)
Berdasarkan
sumber klasik islam, Nabi Muhammad SAW. Menyarankan pengunaan inai bagi wanita.
Dalam Islam sendiri memakai inai bagi wanita mempunyai bebrapa hadist yang
berisi anjuran sebagimana dalam hadist Rasulullah SAW “jika kamu seorang
wanita, seharusnya kamu ubah kukumu dengan henna.” (HR. Nasai dan Abu Daud)
Calon
mempelai sebelum diinai terlebih dahulu di tepung tawari oleh pihak keluarga
sebagai bentuk doa dan simbol mengharapkan keberkahan. Dalam tradisi peusijuk
gaca inai, bu leukat ataupun nasi ketan untuk peusijuk diantar oleh saudara
perempuan dari ayah atau ibu calon pengantin perempuan.
Selanjutnya,
calon dara baro di peusijuk oleh orang yang di tuakan dalam keluarganya,dan di
susul dengan pemakaian inai. Inai di pakaikan di kedua tangan calon dara baro,
persisnya dari ujung jari sampai lengan tangan. Serta kedua kaki hingga
menutupi telapak tangan kaki pengantin.
kegiatan
ini dilakukan hingga tiga malam berturut-turut. Bahkan dahulu tradisi ini
dilangsungkan hingga tujuh malam berturut-turut, namun seiring perkembangan
zaman, masyarakat Aceh sekarang hanya melaukan prosesi boh gaca semalam saja. Boh
gaca selain dilakukan oleh pengantin. Juga di lakukan oleh perempuan-perempuan
yang masih gadis yang memiliki hubungan kekerabatan, serta juga pihak tetangga.
Tradisi
boh gaca sekaligus menjadi moment meminta dan memberi doa restu agar kelak
pernikahan dara baro berlangsung lancar. Malam acara ini juga menjadi pengikat
tali silahturahmi di antara anggota keluarga. Sanak saudara berkumpul, khususnya
kaum hawa. Keakraban keluarga sangat terasa pada upacara adat ini.
Orang
yang dituakan dalam keluarga yang hadir di malam boh gaca juga memberi nasihat
tentang pernikahan dan kehidupan rumah tangga kepada dara baro. Mereka yang
telah lebih dulu membina keluarga memberikan sepatah-dua kata nasihat dan
pengalamannya sebagai bekal untuk mempelai menjalani bahtera rumah tangga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar