“Lada
Sicupak” adalah kisah yang sangat menakjubkan. Ungkapan ini, yang secara
harfiah berarti “Segenggam Lada” memliki
konotasi yang sangat berbeda apabila mengacu pada sebuah peristiwa yang
membangkitkan hubungan historis antara dua negara yang dulunya pernah membangun
kekuatan politik-militer mereka sendiri
di daerah masing-masing. Konsep ini umum digunakan di hampir semua
buku-buku sejarah dan artikel terkait yang mencatat hubungan antara Turki
Utsmani dan Aceh. Dan hal ini juga sering disinggung sebagai pembuka percakapan antara orang Turki
dan orang Aceh yang kebetulan bertemu pada acara kemasyarakatan. Isu mengenai “Lada
Sicupak” ini tampaknya juga di catat dalam babad “Hikayat Meukuta Alam” yang
mengangkat sebuah kisah mengenai meriam yang di sampaikan sebagai cerita lisan
tentang hubungan Aceh dan Turki. Kisah tersebut menegaskan bahwa meriam
tersebut dilindungi di Aceh sampai pecah perang Belanda pada tahun 1874. Ada
beberapa artikel yang menceritakan mengenai “Masalah Meriam” ini yang di
terbitkan pada pertengahan abad ke-20 di Instanbul.
Penting
sekali untuk menggambarkan apa sebenarnya maksud dari ungkapan Lada Sicupak. Pada saat utusan Aceh tiba
di Konstatinopel pada tahun 1565, Sulaiman yang adil, Sultan Turki Utsmani pada
saat itu secara langsung memimpin sendiri pasukan dalam peperangan melawan
Hungaria di medan perang szigetwar,
di Eropa Timur. Menanti masa berlangsungnya peperangan tersebut serta
mangkatnya Sultan Sulaiman menyebabkan utusan Aceh itu menghabiskan waktu lebih
lama di Konstatinopel. Dengan usaha sendiri, mereka menyewa tempat dan
menafkahi diri mereka sendiri dengan menjual komoditas yang mereka bawa bersama
dengan hadiah yang akan di persembahkan kepada Sultan. Setelah Selim II, putra Sulaiman
yang adil, selesai di lantik, barulah utusan Aceh memperoleh kesempatan untuk
melakukan kunjungan resmi ke istana, yakni dua tahun setelah kedatangan mereka
di Turki.
Untuk menafkahi diri mereka selama berada di Turki, mereka terpaksa menjual semua komoditas lada yang mereka miliki termasuk bagian yang sebenarnya telah mereka niatkan untuk dihadiahkan kepada Sultan. Yang tersisa di tangan mereka hanyalah secuil (segenggam), dan itulah yang dapat mereka tawarkan kepada Sultan yang baru saja naik tahta. Dalam pertemuan resmi tersebut, Sultan Turki Utsmani memutuskan untuk mengupayakan bantuan militer ke Aceh yang di antaranya termasuk sebuah meriam yang secara simbolis dinamakan “Lada Sicupak”.
Meriam
lada sicupak yang pernah di diberikan oleh Sultan Turki kepada utusan kerajaan
Aceh kini berada di Dusun Tumpok Teungoh, Gampoeng Blang Balok, Kecamatan
Peureulak, Aceh Timur sekitar akhir 90-an dan kondisi sekarang terawat dengan
baik oleh masyarakat setempat sebagai bukti sejarah peperangan Aceh di masa
dulu.
Referensi:
Mehmet Ozay, Kesultanan Aceh dan Turki antara
fakta dan legenda. Gombak Selangor: Hawash Enterprise. 2014. Hal 23
.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar