daun

Rabu, 02 Juli 2025

SEJARAH MERIAM LADA SICUPAK


“Lada Sicupak” adalah kisah yang sangat menakjubkan. Ungkapan ini, yang secara harfiah berarti “Segenggam Lada”  memliki konotasi yang sangat berbeda apabila mengacu pada sebuah peristiwa yang membangkitkan hubungan historis antara dua negara yang dulunya pernah membangun kekuatan politik-militer mereka sendiri  di daerah masing-masing. Konsep ini umum digunakan di hampir semua buku-buku sejarah dan artikel terkait yang mencatat hubungan antara Turki Utsmani dan Aceh. Dan hal ini juga sering disinggung  sebagai pembuka percakapan antara orang Turki dan orang Aceh yang kebetulan bertemu pada acara kemasyarakatan. Isu mengenai “Lada Sicupak” ini tampaknya juga di catat dalam babad “Hikayat Meukuta Alam” yang mengangkat sebuah kisah mengenai meriam yang di sampaikan sebagai cerita lisan tentang hubungan Aceh dan Turki. Kisah tersebut menegaskan bahwa meriam tersebut dilindungi di Aceh sampai pecah perang Belanda pada tahun 1874. Ada beberapa artikel yang menceritakan mengenai “Masalah Meriam” ini yang di terbitkan pada pertengahan abad ke-20 di Instanbul.     

Penting sekali untuk menggambarkan apa sebenarnya maksud dari ungkapan Lada Sicupak. Pada saat utusan Aceh tiba di Konstatinopel pada tahun 1565, Sulaiman yang adil, Sultan Turki Utsmani pada saat itu secara langsung memimpin sendiri pasukan dalam peperangan melawan Hungaria di medan perang szigetwar, di Eropa Timur. Menanti masa berlangsungnya peperangan tersebut serta mangkatnya Sultan Sulaiman menyebabkan utusan Aceh itu menghabiskan waktu lebih lama di Konstatinopel. Dengan usaha sendiri, mereka menyewa tempat dan menafkahi diri mereka sendiri dengan menjual komoditas yang mereka bawa bersama dengan hadiah yang akan di persembahkan kepada Sultan. Setelah Selim II, putra Sulaiman yang adil, selesai di lantik, barulah utusan Aceh memperoleh kesempatan untuk melakukan kunjungan resmi ke istana, yakni dua tahun setelah kedatangan mereka di Turki.

Untuk menafkahi diri mereka selama berada di Turki, mereka terpaksa menjual semua komoditas lada yang mereka miliki termasuk bagian yang sebenarnya telah mereka niatkan untuk dihadiahkan kepada Sultan. Yang tersisa di tangan mereka hanyalah secuil (segenggam), dan itulah yang dapat mereka tawarkan kepada Sultan yang baru saja naik tahta. Dalam pertemuan resmi tersebut, Sultan Turki Utsmani memutuskan untuk mengupayakan bantuan militer ke Aceh yang di antaranya termasuk sebuah meriam yang secara simbolis dinamakan “Lada Sicupak”.

Meriam lada sicupak yang pernah di diberikan oleh Sultan Turki kepada utusan kerajaan Aceh kini berada di Dusun Tumpok Teungoh, Gampoeng Blang Balok, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur sekitar akhir 90-an dan kondisi sekarang terawat dengan baik oleh masyarakat setempat sebagai bukti sejarah peperangan Aceh di masa dulu.

 

Referensi: Mehmet Ozay, Kesultanan Aceh dan Turki antara fakta dan legenda. Gombak Selangor: Hawash Enterprise. 2014. Hal 23

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar